Minggu, 14 April 2019

00.33

Sebab aku tahu rasa ini lamat,
maka ikat aku erat,
maka tatap aku lekat,
maka dekap aku dekat.
Sungguh ingin aku kau bebat,
meski nikmat, hinggap sekelebat.

Sabtu, 05 Januari 2019

Once

Tadi sore aku nonton Once (2006) karena rekomendasi di Twitter, katanya ini film gore.
Dan ternyata benar, 'gore' in another way.

Cerita tentang dua orang, yang ketemu di jalan ketika si cowok ngamen. Obrolan ngalor ngidul membawa ke satu kecocokan, yaitu musik. Demikianlah musik, sebuah alat transportasi menuju suatu masa, entah depan atau lampau. Musik dan lirik menjadi cara mereka mengomunikasikan luka masing-masing. Si cowok dengan luka dari mantan yang selingkuh, si cewek, yang punya anak dan aksen Eropa Timur, ternyata pisah dari ayah anaknya karena satu ketidakcocokan dan lainnya.
Dimula dari ingin memperbaiki vaccum cleaner hingga memperbaiki karir. Dan sebagaimana kisah manusia biasa, tidak semua berakhir baik baik saja, begitupun dengan film ini.

Ceritanya sederhana, namun menyadarkan: semakin kita tua, jatuh dan patah hati akan semakin beragam macamnya, pun kita akan terbiasa menghadapinya.
Mungkin ketika SD atau SMP dulu, jatuh hati dan pacaran tidak rumit, ya ke teman sekelas atau setidaknya satu sekolah. Masuk SMA, lingkup kenalan makin luas, pacaran bisa ke orang yang beda sekolah atau mungkin guru yang sedang magang. Bertambah lagi usia, mungkin semakin kompleks. Mungkin ada yang pasangannya lebih tua puluhan tahun, mungkin sudah menikah, atau janda/dua. Mungkin ada yang pacarannya sudah tahunan dan jenuh, tapi mesti tetap bertahan. Dan sekian ragam lainnya.

Begitupun patah hati. Mulai dari alasan hingga reaksi kita akan hubungan yang gagal akan semakin beragam. Dulu mungkin setiap putus, kita nangis bermalam-malam, menggores tangan untuk membuktikan bahwa kita betul ingin berkorban, ga mau keluar rumah karena takut ngenang mantan, bacain tips-tips lupain mantan, langsungnyari pengganti, sampai ke titik kita mencari makanan kesukaan atau belajar untuk cerita ke teman pada patah hati berikutnya, mulai mensyukuri untuk setiap hubungan yang gagal, menjadikannya pelajaran, menerima keadaan. Bahkan mungkin, ketika patah hati datang, tanggapan kita hanya,"oh, yasudah".
Seperti mendengar lawakan yang sama, semakin sering kita dengar, maka semakin kalem reaksi kita, bahkan setelah puluhan kali, kita tak tertawa lagi.

Menyadari bahwa kita menua dengan luka luka itu mendamaikan. Bahwa kita bisa belajar untuk menutupnya dan bersiap untuk tusukan atau sayatan lainnya. Mensyukuri bahwa tidak setiap hubungan harus berakhir dengan baik baik saja. Atau mensyukuri karena mau mengusahakan untuk hubungan itu tetap berjalan.

Kita, yang menjalani hubungan, selayaknya mendayung kapal bersama. Dalam perjalanan, kapal bisa jadi retak atau bolong. Ada orang-orang yang memilih untuk menambal kapal bersama, tak sedikit pula yang memilih lompat, berenang menuju tepiannya masing-masing, mencari rumah makan Padang terdekat.

Jumat, 04 Januari 2019

Mulai Lagi

Pukul 6 pagi di 5 Januari. Lagu Stars In Us-nya Gardika Gigih sedang mengalun manis, sebagaimana lagu itu menjadi ritual setiap aku menulis.
Satu tahun.
Aku minta jeda ke diriku sendiri satu tahun untuk tidak menulis.
Ada kejemuan saat itu, hilangnya muse, dan hidup yang cepat sekali berputar.
Orang bilang, kemalangan hidup yang akan memberi kita inspirasi untuk menulis, tapi malah di tahun yang paling emosionalku, aku justru tidak menulis.
2018 berjalan menyakitkan.
Menjalaninya tanpa menulis, lebih menyakitkan lagi.
Luka yang datang justru aku biarkan, tidak tuang sama sekali.
Perlahan kemampuan bicara, berekspresi, dan menyusun kata menyusut.
Menjelang akhir tahun, aku sadar ini semakin tidak baik.

Tahun 2019 baru mulai.
Aku tahu banyak kekhawatiran yang menetap, hanya berubah bentuk.
Aku tahu tahun ini takkan mudah, mungkin lebih berat juga.
Dan aku belajar untuk terus jalan, memasrahkan segala sesuatu yang tak bisa aku atur.
Aku juga tahu akan banyak peluang yang bisa terbuka.
Aku tahu kekurangan dan kelemahan ku di waktu lalu, sehingga punya kesempatan untuk memperbaiki.
Dan aku belajar untuk terus jalan, memberi usaha pada segala sesuatu yang bisa aku atur.
Seraya, meminta semesta mengajarkan aku untuk bijaksana membedakannya.

Untuk senangmu, sedihmu, tawamu, laramu, lukamu, dukamu, sukamu, senyummu, nelangsamu, gempitamu, percayalah:
"dan sesuai dengan hikmat Tuhan, ku diberikan apa yang perlu"

Guru

Namanya Wandi, usia 12 tahun, kelas 1 SMP. Hari itu, 22 Desember 2018, dia menjadi guruku.
Dia adalah anak tetangga yang setahun belakangan ini sering main ke rumah untuk bantu bersih-bersih. Aku udah sering dengar ceritanya dari mama, tapi karena setahun belum pulang, baru hari itu aku ketemu langsung dengan Wandi.

Aku menerima Wandi datang hari itu, tanpa ekspektasi. Dia diminta mama untuk membersihkan halaman depan dan mencabut rumput.
Sejam setelahnya, dia istirahat dan kesempatanku ngajak dia ngobrol
Aku: Udah sering ke sini, Wan?
Wandi: Lumayan sering, bang. Aku sering dipanggil bou (mamaku-red).
Aku: Kau tinggal di sebelah kan? Udah lama? (ketauan jarang bertetangga)
Wandi: Udah lamalah, bang
Aku: Sama mamak bapak?
Wandi: Sama mamak aja, bang. Ngekos.
Aku: Bapak?
Wandi: Udah kawin lagi
deg
Aku: Udah lama bapak kawin lagi? Kau ga sedih ku tanya gini?
Wandi: Gak apa apa, bang. Udah biasa. Pas aku kelas 5 SD, bapak kawin lagi. Masuk Islam dia.
Aku: Tapi masih berhubungan sama bapak?
Wandi: Masih, bang. Kalo hari minggu aku ke tempat dia kerja di Padang Bulan, minta duit
Itu jauh banget anjir

Aku: Oh, bapak selalu di situ? Naik apa?
Wandi: Enggak, Bang. Kadang bapak ga ada. Gak tau juga, kan kami ga punya handphone. Naik angkot 123 atau 110 aku ke sana, bang
Aku: Terus kalo bapak ga ada?
Wandi: Ya aku pulang, bang
Aku: Lho ga dapat duit lah ya? Mamak kerja?
Wandi: Iya, bang ga dapat. Mamak kerja, bang. Jadi tukang cuci, di tempat si A, B, dan C. (aku lupa nama orangnya, toh ga ku kenal)
Aku: Mamak dapat berapa sebulan, Wan? Berapa uang kos?
Wandi: Kalo digabung, mamak bisa dapat 1,5jt, bang. Kalo uang kos 450rb
Buset ni anak udah tau perekonomian keluarga

Aku: Jadi kayak mana bayar kau sekolah? adek adekmu? (dia punya 2 adik)
Wandi: Uang sekolahku, 120 ribu, adekku dibayarin kepala sekolahnya, bang. Jadi masih bisa lah
Daripada makin sedih, mending aku bahas sekolahnya

Aku: Di sekolah banyak yang bandel?
Wandi: Banyak lah, bang. Yang angkat kaki ke meja pas guru ngajar aja ada.
Aku: Terus kau ikutan bandel lah ya?
Wandi: Enggak lah bang. Ngapain aku bandel, udah capek mamakku nyari duit buat aku sekolah, masa aku sia siakan
Kalimat itu sering ku dengar, selama ini terdengar klise. Kali ini aku paham, beneran ada orang yang seniat itu untuk sekolah. 

Aku: Apa rupanya cita-citamu?
Wandi: Tentara, bang
Aku: Kok tentara?
Wandi: Biar bisa aku lindungi negara ini, bang. Biar bisa aku bantu orang lain juga.
Well, dia bahkan masih kepikiran untuk bantu orang lain. Pembicaraan berikutnya lebih ke pelajaran sekolah. Skip. Wandi kembali bebersih halaman dan cabut rumput. Sebelum pulang, dia duduk duduk dulu. Ku sodorkan segelas coca cola, karna aku tau dia sukanya itu. Dan hari itu aku bisa lihat segelas coca cola dinikmati dengan syahdu.
Aku: Jadi udah ada baju natalmu?
Wandi: Udah, bang. Kemaren beli di Ramayana sama mamak.
Aku: Duit dari mana?
Wandi: Dari kerja kerja kayak gini, ku kumpul-kumpulkan duitnya, gak mau aku susahin mamak.
Daymn

Aku: Ya udah, nih baju buat kau tahun baru lah ya. Sama ini, buat uang jajanmu (aku emang udah nyiapin kemeja untuk dia dan uang dari mama)
Wandi: Makasih ya, bang
Aku: Kau jangan jajan aneh aneh ya.
Wandi: Enggak lah, bang. Sayang duitnya. Aku mau nyari kado untuk mamak, kan ini hari ibu,
Aku: Kado apa?
Wandi: Kayaknya lipstik, bang. Kemaren ada ku tengok lipstik di indomaret, biar ku beli untuk mamak

Dan setelah itu, Wandi pamit pulang.
Aku terdiam. Bagaimana anak yang umurnya masih setengah dari aku, mengajarkan untuk menghargai apa yang orang tuanya bisa kasi, bahkan sedini mungkin memberi kontribusi untuk keluarga. Bagaimana seorang bocah bisa kuat menyadari keadaan keluarganya, menjaga adik-adiknya, sambil tetap menjaga asa untuk hidup yang lebih baik.

Tempaan hidup yang memang menjadikan manusia lebih kuat, tak peduli berapapun usiamu. Dia, umur 12 tahun, aku yakin lebih kuat dan dewasa, daripada aku, yang berumur 24 tahun, yang tak kunjung menyisihkan gaji untuk orang rumah dan masih lupa bahwa saat itu hari ibu.

Selasa, 26 Desember 2017

Museum

Eh, ternyata dia lagi ngefoto, aku harus geser ga ya?
Aku berdiri diam, menatapi lukisan di depan yang tak kupahami maknanya apa. Sementara, pikiranku sedang berada 1,5 m ke sisi kananku.
Salah ga ya kalau ngajak ngobrol? Lagipula, gimana caranya?

Sudah 30 menit lebih pikiranku kacau begini. Perempuan yang sedang sendiri, baju hitam, rok coklat, kacamata, rambut berombak (yang membuatku sepertinya rela tenggelam di dalamnya), ditambah lagi dengan suasana tempat ini: Museum. Bagaimana tidak kacau? Suasana ini sangat tepat untuk jatuh cinta, seperti film-film barat. Entah dimulai dengan senggolan atau sapaan ringan, maka bisa berlanjut ke genggaman tangan di pelaminan.
Benar sekali. Obrolan! Aku harus coba, karena kalau senggolan, bakal ribet kalau HP nya jatuh dan pecah.

Mataku kembali mencari keberadaannya, sambil memupuk keberanian.
Ah, itu dia, menatapi lukisan abstrak.
Aku selalu berpikir bahwa cara terbaik untuk memulai obrolan adalah dengan mengomentari apa yang orang itu kenakan atau lihat.
Baju? Ah obrolan apa yang bisa dimulai dari baju hitam?
Rok? Apalagi ini, manalah aku tahu tentang bahan rok yang bagus.
Rambut? Hhhhh mau nanya apa? Merk shampoo?
Pinggangnya yang aduhai? JANGAN! Terlalu mesum. Lagipula bukan gini cara mainnya.
Lukisan? Benar! Kita bisa mulai dari lukisan yang dia lihat.
Lukisan abstrak. Oke, apa yang aku tau mengenai lukisan abstrak, agar tampak berisi?
Interpretasi? Duh aku bodoh dalam hal begini.
Apa perlu aku jelaskan mengenai perbedaan mahzab lukisan di Indonesia pada era 1950-1960? Yang aku tahu cuma Mahzab Yogya yang memakai pendekatan realisme, sementara Mahzab Bandung lebih memakai pendekatan abstrak. Jangan deh, yang aku tau cuma itu, lagipula tidak ada hubungannya dengan lukisan yang dia lihat.

Suara-suara dalam kepalaku pun terus berdebat sampai akhirnya aku sadar dia tak sedang menatapi lukisan itu lagi.
Ke mana dia? Cepat sekali.

Agar tidak disangka penguntit, aku memilih untuk menikmati saja lukisan yang ada. Lagian, memang itu tujuanku ke museum ini. Urusan menemukannya lagi, biarlah itu kehendak semesta dan mata.

Tak cuma sekali dua kali mataku menemukannya lagi dan kecamuk dalam kepala tak henti henti. Aku merasa memang kami ditakdirkan untuk bicara. Tapi, apa daya takdir bila si pemerannya tidak berani melakukan apa apa. Pikiran itu didebat oleh sisi yang bilang, sudahlah biarkan dia dengan kenikmatannya dan kita dengan urusan kita. Kita datang untuk melihat lukisan, kan?

Aku berdiri di depan lukisan yang paling dekat dengan pintu keluar. Lukisan terakhir. Aku baca keterangan di sampingnya, ternyata ini bukan lukisan. Yang berada di depanku adalah instalasi bendera-bendera negara yang tergabung dalam ASEAN, dibentuk dari pasir-pasir berwarna, dihubungkan dengan pipa, dan di dalamnya terdapat 5000 ekor semut untuk berlalu lalang.
Kenapa orang-orang ga ada yang sadar dengan ide gila ini?
Aku berpikir demikian, sebab sedari tadi orang-orang hanya berfoto di depannya, tanpa membaca keterangan di sampingnya, sehingga tidak ada yang ingin melihat lebih dekat untuk mencari semut-semut itu.
Aku melihat lebih dekat lagi dan akhirnya menemukan seekor yang sedang berjalan di pipa antara bendera Indonesia dan Kamboja. Bangga rasanya.
Aku berniat beranjak pulang, baru berbalik, ternyata ada perempuan tadi, sedang membidikkan kameranya ke arah lukisan atau ke arahku. Kuurungkan niat pulang, berpura melihat instalasi tadi, sembari menyiapkan obrolan. Kali ini aku merasa lebih siap, setidaknya aku bisa melihat apa yang orang lain tak lihat.
Oke, sekarang saatnya. Obrolkan aja tentang semutnya.
Aku mensejajarkan diri dengannya, menghadapkan kepala, mulutku membuka
"Sayang, pulang yuk".
dan seorang lelaki datang merangkulnya.
Mereka saling menggenggam tangan, berjalan keluar.
Menyisakan aku terpelongo
dan semut yang daritadi di tempat yang sama
seraya menyindir
"Gagal lagi ya?"

Rabu, 15 November 2017

Pilihan (1)

"Mungkin kita perlu waktu lagi untuk mikir,"
"Ya, sure. Aku pulang ya",
Aku berbalik dan mendengar pintu ditutup.
Aku memutuskan untuk berkeliling kota terlebih dahulu, tak langsung pulang.
Memilih tak pernah serumit ini.
Cukup satu tahun setengah untuk kami sepakat melanjutkan ke tahap berikutnya: Pelaminan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Wallpaper

"Mas Todo, ayo berangkat lagi"
"Siap, Pak"
Kututup botol minumanku dan naik ke boncengan.
Hari ini aku bertugas untuk menemani sekaligus mempelajari tugas debt collector.
Si bapak menyalakan motor, mengambil handphone-nya, sebentar saja, hanya untuk melihat foto anaknya di wallpaper, lalu menyimpannya lagi.
Dia merapal dalam senyum,
"Bismillahirrohmanirrohim".

Sabtu, 24 Juni 2017

Waktu

Tulisan ini sepertinya kurang tepat bila ditulis oleh seseorang yang masih berusia 22 tahun 10 bulan, tapi lebih lama menunggu, aku tak mau.
Sebelum aku sidang skripsi, aku dan teman-teman organisasi berkumpul untuk doa bersama dan memberikan pesan. Saat itu, salah satu kalimat yang kuucapkan adalah,"Bagian yang paling jahat dari waktu adalah kita akan kehilangan orang yang paling kita sayang". Hal yang lupa kuucapkan adalah bahwa waktu pun akan menghilangkan apa yang ada dalam diri kita, baik itu pola pikir, kekuatan, bahkan kesehatan.
Kehilangan sendiri pun bisa menggiring ke lebih baik atau lebih buruk. Pun aku masih belum tahu kehilangan sedang membawaku ke mana, hanya saja aku masih seringkali kaget dengan tamparan waktu.
Sekitar dua bulan lalu, aku bangun pagi, bangkit dan langsung jatuh lagi. Aku kaget badanku mendadak selemah ini, segala yang kupangang berputar, bergerak tak menentu. Sebisa mungkin kukucek mataku, mengira bahwa ini hanya masalah penglihatan. Sekian kali kucoba, namun tak sedikitpun berubah. Untungnya, opungku melihat dan membopongku balik ke tempat tidur.
Ada apa dengan badanku.. Itu pikiran yang terlintas. 
Akhirnya, aku disuruh istirahat dengan cahaya seminimal mungkin, karena itu dapat mengganggu sarafku, kata mama begitu.
Sebenarnya sakitnya sih biasa aja, namun mengetahui bahwa diriku bisa lemah, itu lebih menyakitkan. Aku terbiasa dengan diri yang sehat, kuat, dan sigap. Dulu, mau roller coaster se-ngeri apapun, kujabanin. Kalau sekarang? Seminggu lalu aku ke dufan, mau naik histeria. Sudah duduk di bangku permainan, tiba-tiba aku merasa ada yang berputar dalam kepalaku, ada sesuatu yang naik dari perut ke kepalaku, dan aku meminta untuk permainan diberhentikan dengan kategori 'emergency'. Aku hanya menonton orang lain dari bawah, merutuki diri sendiri.
Pun sekarang, setiap kali membongkar dompet, ada rasa miris. Di dompetku sekarang ada obat yang dikonsumsi bila sewaktu-waktu penyakitnya muncul. Ga enak rasanya, apalagi untuk aku yang terbiasa 'bebas'.
Ya, aku mulai kehilangan kebebasan untuk mengonsumsi gula, memakan daging, memakan coklat, menghantam terik, menghajar hujan, dan beberapa lainnya.
Namun, yang sangat aku senangkan adalah bagaimana waktu mengajarkanku untuk lebih mensyukuri keberadaannya, mensyukuri apa yang aku miliki, mensyukuri bahwa setiap kali kehilangan, maka akan digantikan sesuatu yang baru. Mensyukuri masih ada orang-orang yang peduli, mensyukuri masih bisa makan, bahkan mensyukuri bahwa hal-hal yang aku keluhkan masihlah lebih baik bila dibandingkan dengan orang lain. 

Mari kita lihat waktu akan membawa aku dan kamu ke mana.
Mari kita lihat, apa lagi yang akan dihilangkan oleh waktu, dan apa lagi yang akan diberikannya.
Nikmati tawa dan derita itu, kawan.