Selasa, 26 Desember 2017

Museum

Eh, ternyata dia lagi ngefoto, aku harus geser ga ya?
Aku berdiri diam, menatapi lukisan di depan yang tak kupahami maknanya apa. Sementara, pikiranku sedang berada 1,5 m ke sisi kananku.
Salah ga ya kalau ngajak ngobrol? Lagipula, gimana caranya?

Sudah 30 menit lebih pikiranku kacau begini. Perempuan yang sedang sendiri, baju hitam, rok coklat, kacamata, rambut berombak (yang membuatku sepertinya rela tenggelam di dalamnya), ditambah lagi dengan suasana tempat ini: Museum. Bagaimana tidak kacau? Suasana ini sangat tepat untuk jatuh cinta, seperti film-film barat. Entah dimulai dengan senggolan atau sapaan ringan, maka bisa berlanjut ke genggaman tangan di pelaminan.
Benar sekali. Obrolan! Aku harus coba, karena kalau senggolan, bakal ribet kalau HP nya jatuh dan pecah.

Mataku kembali mencari keberadaannya, sambil memupuk keberanian.
Ah, itu dia, menatapi lukisan abstrak.
Aku selalu berpikir bahwa cara terbaik untuk memulai obrolan adalah dengan mengomentari apa yang orang itu kenakan atau lihat.
Baju? Ah obrolan apa yang bisa dimulai dari baju hitam?
Rok? Apalagi ini, manalah aku tahu tentang bahan rok yang bagus.
Rambut? Hhhhh mau nanya apa? Merk shampoo?
Pinggangnya yang aduhai? JANGAN! Terlalu mesum. Lagipula bukan gini cara mainnya.
Lukisan? Benar! Kita bisa mulai dari lukisan yang dia lihat.
Lukisan abstrak. Oke, apa yang aku tau mengenai lukisan abstrak, agar tampak berisi?
Interpretasi? Duh aku bodoh dalam hal begini.
Apa perlu aku jelaskan mengenai perbedaan mahzab lukisan di Indonesia pada era 1950-1960? Yang aku tahu cuma Mahzab Yogya yang memakai pendekatan realisme, sementara Mahzab Bandung lebih memakai pendekatan abstrak. Jangan deh, yang aku tau cuma itu, lagipula tidak ada hubungannya dengan lukisan yang dia lihat.

Suara-suara dalam kepalaku pun terus berdebat sampai akhirnya aku sadar dia tak sedang menatapi lukisan itu lagi.
Ke mana dia? Cepat sekali.

Agar tidak disangka penguntit, aku memilih untuk menikmati saja lukisan yang ada. Lagian, memang itu tujuanku ke museum ini. Urusan menemukannya lagi, biarlah itu kehendak semesta dan mata.

Tak cuma sekali dua kali mataku menemukannya lagi dan kecamuk dalam kepala tak henti henti. Aku merasa memang kami ditakdirkan untuk bicara. Tapi, apa daya takdir bila si pemerannya tidak berani melakukan apa apa. Pikiran itu didebat oleh sisi yang bilang, sudahlah biarkan dia dengan kenikmatannya dan kita dengan urusan kita. Kita datang untuk melihat lukisan, kan?

Aku berdiri di depan lukisan yang paling dekat dengan pintu keluar. Lukisan terakhir. Aku baca keterangan di sampingnya, ternyata ini bukan lukisan. Yang berada di depanku adalah instalasi bendera-bendera negara yang tergabung dalam ASEAN, dibentuk dari pasir-pasir berwarna, dihubungkan dengan pipa, dan di dalamnya terdapat 5000 ekor semut untuk berlalu lalang.
Kenapa orang-orang ga ada yang sadar dengan ide gila ini?
Aku berpikir demikian, sebab sedari tadi orang-orang hanya berfoto di depannya, tanpa membaca keterangan di sampingnya, sehingga tidak ada yang ingin melihat lebih dekat untuk mencari semut-semut itu.
Aku melihat lebih dekat lagi dan akhirnya menemukan seekor yang sedang berjalan di pipa antara bendera Indonesia dan Kamboja. Bangga rasanya.
Aku berniat beranjak pulang, baru berbalik, ternyata ada perempuan tadi, sedang membidikkan kameranya ke arah lukisan atau ke arahku. Kuurungkan niat pulang, berpura melihat instalasi tadi, sembari menyiapkan obrolan. Kali ini aku merasa lebih siap, setidaknya aku bisa melihat apa yang orang lain tak lihat.
Oke, sekarang saatnya. Obrolkan aja tentang semutnya.
Aku mensejajarkan diri dengannya, menghadapkan kepala, mulutku membuka
"Sayang, pulang yuk".
dan seorang lelaki datang merangkulnya.
Mereka saling menggenggam tangan, berjalan keluar.
Menyisakan aku terpelongo
dan semut yang daritadi di tempat yang sama
seraya menyindir
"Gagal lagi ya?"

Rabu, 15 November 2017

Pilihan (1)

"Mungkin kita perlu waktu lagi untuk mikir,"
"Ya, sure. Aku pulang ya",
Aku berbalik dan mendengar pintu ditutup.
Aku memutuskan untuk berkeliling kota terlebih dahulu, tak langsung pulang.
Memilih tak pernah serumit ini.
Cukup satu tahun setengah untuk kami sepakat melanjutkan ke tahap berikutnya: Pelaminan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Wallpaper

"Mas Todo, ayo berangkat lagi"
"Siap, Pak"
Kututup botol minumanku dan naik ke boncengan.
Hari ini aku bertugas untuk menemani sekaligus mempelajari tugas debt collector.
Si bapak menyalakan motor, mengambil handphone-nya, sebentar saja, hanya untuk melihat foto anaknya di wallpaper, lalu menyimpannya lagi.
Dia merapal dalam senyum,
"Bismillahirrohmanirrohim".

Sabtu, 24 Juni 2017

Waktu

Tulisan ini sepertinya kurang tepat bila ditulis oleh seseorang yang masih berusia 22 tahun 10 bulan, tapi lebih lama menunggu, aku tak mau.
Sebelum aku sidang skripsi, aku dan teman-teman organisasi berkumpul untuk doa bersama dan memberikan pesan. Saat itu, salah satu kalimat yang kuucapkan adalah,"Bagian yang paling jahat dari waktu adalah kita akan kehilangan orang yang paling kita sayang". Hal yang lupa kuucapkan adalah bahwa waktu pun akan menghilangkan apa yang ada dalam diri kita, baik itu pola pikir, kekuatan, bahkan kesehatan.
Kehilangan sendiri pun bisa menggiring ke lebih baik atau lebih buruk. Pun aku masih belum tahu kehilangan sedang membawaku ke mana, hanya saja aku masih seringkali kaget dengan tamparan waktu.
Sekitar dua bulan lalu, aku bangun pagi, bangkit dan langsung jatuh lagi. Aku kaget badanku mendadak selemah ini, segala yang kupangang berputar, bergerak tak menentu. Sebisa mungkin kukucek mataku, mengira bahwa ini hanya masalah penglihatan. Sekian kali kucoba, namun tak sedikitpun berubah. Untungnya, opungku melihat dan membopongku balik ke tempat tidur.
Ada apa dengan badanku.. Itu pikiran yang terlintas. 
Akhirnya, aku disuruh istirahat dengan cahaya seminimal mungkin, karena itu dapat mengganggu sarafku, kata mama begitu.
Sebenarnya sakitnya sih biasa aja, namun mengetahui bahwa diriku bisa lemah, itu lebih menyakitkan. Aku terbiasa dengan diri yang sehat, kuat, dan sigap. Dulu, mau roller coaster se-ngeri apapun, kujabanin. Kalau sekarang? Seminggu lalu aku ke dufan, mau naik histeria. Sudah duduk di bangku permainan, tiba-tiba aku merasa ada yang berputar dalam kepalaku, ada sesuatu yang naik dari perut ke kepalaku, dan aku meminta untuk permainan diberhentikan dengan kategori 'emergency'. Aku hanya menonton orang lain dari bawah, merutuki diri sendiri.
Pun sekarang, setiap kali membongkar dompet, ada rasa miris. Di dompetku sekarang ada obat yang dikonsumsi bila sewaktu-waktu penyakitnya muncul. Ga enak rasanya, apalagi untuk aku yang terbiasa 'bebas'.
Ya, aku mulai kehilangan kebebasan untuk mengonsumsi gula, memakan daging, memakan coklat, menghantam terik, menghajar hujan, dan beberapa lainnya.
Namun, yang sangat aku senangkan adalah bagaimana waktu mengajarkanku untuk lebih mensyukuri keberadaannya, mensyukuri apa yang aku miliki, mensyukuri bahwa setiap kali kehilangan, maka akan digantikan sesuatu yang baru. Mensyukuri masih ada orang-orang yang peduli, mensyukuri masih bisa makan, bahkan mensyukuri bahwa hal-hal yang aku keluhkan masihlah lebih baik bila dibandingkan dengan orang lain. 

Mari kita lihat waktu akan membawa aku dan kamu ke mana.
Mari kita lihat, apa lagi yang akan dihilangkan oleh waktu, dan apa lagi yang akan diberikannya.
Nikmati tawa dan derita itu, kawan.

Selasa, 09 Mei 2017

Berpendapat

Panas ya?
Banget.
Dari kubu satu dan kubu satunya sama-sama panas.
Yang satu minta Ahok dibebaskan, yang satu lagi ngerasa kurungannya kurang lama.

Rabu, 15 Maret 2017

Catatan

Gani:

Dia Zaharaku,
Wanita yang menyematkan namaku sebagai nama belakangnya sejak satu tahun lalu.
Aku senang saat pelukannya beradu cepat dengan terbitnya mentari.
Menyisipkan jemarinya dalam telapak tanganku.
Menggenggam erat.
Dia setia menungguku pulang.
Senyumnya tak pernah absen dari hari kami
Cium hangatnya setelah membukakan pintu untukku.
Gesit geraknya menyiapkan untukku menyantap makanan dan dia.